Warga Padang Kuas Desak PT TLB Atasi Dampak Buruk SUTT
Bengkulu (AMBONEWS) - Melanjutkan pertemuan pada 27 Desember di Kantor ESDM Bengkulu terkait dampak operasi Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT), pada Selasa (7/1) dilakukan pemeriksaan lapangan di permukiman warga Desa Padang Kuas, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu.
Pemeriksaan ini melibatkan sekitar 30 kepala keluarga (KK) korban dampak SUTT, petugas Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), serta perwakilan PT TLB. Kegiatan diawali dengan pertemuan di balai Desa Padang Kuas, kemudian dilanjutkan dengan inspeksi rumah warga terdampak di Dusun II dan Dusun III.
Hasil pemeriksaan menunjukkan kerusakan signifikan pada peralatan elektronik milik warga, yang diduga akibat radiasi dari SUTT. Warga juga mengungkapkan keresahan mereka sejak jalur transmisi PT TLB beroperasi di wilayah tersebut.
“Sebelum tower SUTT dibangun, pihak PT TLB mengatakan bahwa SUTT ini tidak berbahaya,” ujar Rohma, warga Dusun II. Namun, sejak jalur tersebut beroperasi, ia kerap mengalami sakit kepala, nyeri sendi, dan banyak alat elektronik di rumahnya terbakar. Bahkan, anaknya pernah tersengat listrik yang muncul dari lantai rumah. “Kami bingung, dari mana aliran listrik itu berasal,” tambahnya.
Pesi, warga Dusun III, menambahkan bahwa saat sosialisasi, pihak PT TLB mengklaim kabel SUTT aman. Namun, kenyataannya, warga tetap merasa cemas setiap kali terjadi petir. “Selain risiko pada peralatan elektronik, kami khawatir dengan keselamatan anak-anak, mengingat tower ini berdiri dekat fasilitas umum seperti lapangan sepak bola, PAUD, SD, posyandu, dan kantor desa,” katanya.
Warga mendesak PT TLB untuk membongkar tiga tower SUTT, yakni dua di Dusun II dan satu di Dusun III yang berlokasi dekat Masjid Al Mujahirin.
Direktur Kampanye Energi Kanopi Hijau Indonesia, Olan Sahayu, menyebut bahwa dampak radiasi medan magnet dari SUTT tidak hanya dirasakan oleh warga Desa Padang Kuas. “Keluhan serupa telah datang dari warga Teluk Sepang, Desa Riak Siabun, dan Desa Babatan. Beberapa warga juga melaporkan tersengat listrik, dan peralatan elektronik mereka rusak,” jelasnya.
Di Desa Air Petai, satu keluarga melaporkan kerusakan barang elektronik, sementara pendataan Kanopi Hijau Indonesia mencatat Desa Padang Kuas sebagai wilayah dengan jumlah korban terbanyak. Sebanyak 38 KK di desa ini mengalami kerugian material sebesar Rp155 juta, selain dampak psikologis akibat kecemasan yang terus-menerus.
Dokumen ANDAL RKL-RPL milik PT TLB menyebutkan bahwa jaringan transmisi SUTT PLTU Teluk Sepang memang berpotensi menimbulkan radiasi magnetik dan listrik, yang berdampak pada kerusakan elektronik serta kesehatan manusia.
Sebagai tindak lanjut, tim pemeriksa menyepakati pembentukan tim peneliti untuk membuktikan keterkaitan kerugian warga dengan operasi SUTT milik PT TLB. Penelitian ini direncanakan berlangsung dari 7 Januari hingga 7 Februari 2025.