Skip to main content
Ruangan Flamboyan yang menjadi ruang isolasi pasien dicurigai terinfeksi virus corona.

Kronologis Dicurigainya Seorang Mahasiswa Tiongkok Terinfeksi Virus Corona

AMBONEWS.COM, Bengkulu - Satu orang perempuan warga Bengkulu asal Kabupaten Lebong dicurigai terinfeksi virus corona, saat ini tengah diisolasi di ruangan khusus di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) M. Yunus Bengkulu.

Wakil Direktur Pelayanan RSUD M. Yunus Ismir Fahri menceritakan kronologis dicurigainya satu pasien yang terinfeksi virus corona ini.

Rabu malam (29/1) pasien yang dicurigai terinfeksi virus corona ini dirujuk dari klinik ke RSUD M. Yunus karena mengalami demam tinggi dan mengaku baru pulang dari China lantaran pasien ini adalah seorang mahasiswa di daerah tidak jauh dari asal virus corona, Kota Suzhou, China.

Ia pulang ke Indonesia lantaran dianjurkan oleh Kedutaan untuk pulang ke kampung halaman di Indonesia pada masa libur.

Berdasarkan hal itu, pasien ini langsung mendapatkan penanganan khusus di RSUD M Yunus dan langsung dirawat di ruang Isolasi, yakni ruang Flamboyan, sedangkan pasien yang dirawat di ruang Flamboyan dipindahkan ke ruang Seruni.

"Bertolak dari Tiongkok itu tanggal 28, transit di Thailand, di Thailand mengaku demam dan pada saat itu dia mengonsumsi obat anti demam, kemudian pada tanggal 29 subuh tiba di Indonesia dengan kondisi respon obat penurun panas, sehingga tidak terdeteksi oleh Thermal Scanner di Jakarta, pagi harinya melanjutkan perjalanan ke Bengkulu, sore harinya merasa demam lagi hingga Dia meminta meminta kepada orang tuanya untuk memeriksakan ke sebuah sebuah klinik dan karena mengaku dirinya berasal dari negara Tiongkok serta memiliki gejala dengan maka dokter yang bertemu dengan dirinya di klinik menyarankan untuk dirujuk ke RSUD M Yunus," Sampainya, Kamis pagi (30/1).

Lebih lanjut dikatakan Ismir, sejarah SOP RSUD M Yunus setelah mendapat kabar tersebut langsung menyiapkan tim serta ruangan untuk melakukan tindakan lebih lanjut terhadap pasien ini serta untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

"Pasien datang secara pribadi di IGD, kita melakukan assesment secara penuh setelah kita menyiapkan ruangan yang prober, baru dilakukan di ruangan isolasi, jadi gejalanya baru demam dan nyeri tenggorokan," Tambahnya.

Setelah itu baru dilakukan assesment oleh dokter jaga, perawat dan di konsulkan ke dokter dokter spesialis, dimana RSUD M Yunus telah membuat tim yang terdiri dari beberapa dokter spesialis yang berhubungan dengan kasus virus Corona, seperti spesialis THT dan spesialis paru-paru.

"Dari data-data yang kita lihat, pasien baru melihat kepada pasien dengan gejala virus, dengan nyeri di areal tenggorokan, sedangkan gambaran-gambaran yang menuju kepada gangguan pernapasan bagian bawah belum nampak," Lanjutnya.

Karena, sesuai dari dari apa yang dirintis oleh perhimpunan dokter spesialis paru apabila kita mendapatkan tiga kriteria yaitu adanya pasien yang berasal dari daerah endemik walaupun bukan dari kota sumber virus, tetapi berasal dari daerah atau kota yang sudah terpapar oleh virus di China, maka pasien akan tetap langsung di observasi.

Selanjutnya, pasien mengeluh demam nyeri tenggorokan belum masuk ke pada kriteria ketiga yaitu adanya batuk disertai dengan gangguan pernapasan bagian bawah dan didukung dengan gambaran rontgen yang mengarah kepada gangguan saluran pernapasan bagian bawah. (Nay)